{"id":648,"date":"2021-01-16T16:42:29","date_gmt":"2021-01-16T09:42:29","guid":{"rendered":"http:\/\/farmasi.fmipa.umri.ac.id\/?p=648"},"modified":"2021-01-25T17:39:11","modified_gmt":"2021-01-25T10:39:11","slug":"informasi-umum-tentang-obat-yang-wajib-diketahui-masyarakat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/farmasi.fmipa.umri.ac.id\/index.php\/informasi-umum-tentang-obat-yang-wajib-diketahui-masyarakat\/","title":{"rendered":"Informasi Umum Tentang Obat yang Wajib Diketahui Masyarakat"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Obat <\/strong>adalah bahan atau panduan bahan-bahan yang siap digunakan untuk&nbsp;mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam&nbsp;rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan,&nbsp;peningkatan kesehatan dan kontrasepsi (Undang-Undang Kesehatan No. 23&nbsp;tahun 1992).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Obat jadi<\/strong> adalah obat yang sudah dalam bentuk siap pakai, dibedakan antara <strong>obat&nbsp;generik dan obat merek dagang<\/strong>. <strong>Obat generik<\/strong> adalah obat jadi terdaftar yang&nbsp;menggunakan nama generik yaitu nama obat internasional atau nama lazim yang&nbsp;sering dipakai.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Penggolongan Obat<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penulisan obat generik menunjukkan :<br>1. Nama generik lebih informatif dari pada nama dagang<br>2. Memberi kemudahan pemilihan produk<br>3. Produk obat generik pada dasarnya lebih murah daripada produk nama dagang<br>4. Resep\/order dengan nama generik mempermudah substitusi produk yang sesuai<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Obat nama dagang<\/strong> adalah obat jadi dengan nama dagang yang terdaftar atas nama pembuat atau yang dikuasakannya, dan dijual dalam bungkus asli pabrik yang memproduksinya. Sedangkan <strong>obat palsu<\/strong> adalah obat jadi yang diproduksi oleh pabrik obat yang tidak terdaftar, obat yang tidak terdaftar atau obat jadi yang kadarnya menyimpang 20 % atau lebih dari persyaratan yang ditentukan. Penggolongan obat dimaksudkan untuk peningkatan keamanan dan ketepatan penggunaan serta pengamanan distribusinya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Penggolongan obat menurut Permenkes No. 917\/1993 adalah :<\/strong><\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">1. Obat Bebas<\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Obat bebas adalah obat yang dijual bebas di pasaran dan dapat dibeli tanpa resep dokter. Tanda khusus pada kemasan dan etiket obat bebas adalah lingkaran hijau dengan garis tepi berwarna hitam.<br>Contoh : Parasetamol<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">2. Obat Bebas Terbatas<\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Obat bebas terbatas adalah obat yang sebenarnya termasuk obat keras tetapi masih dapat dijual atau dibeli bebas tanpa resep dokter, dan disertai dengan tanda peringatan. Tanda khusus pada kemasan dan etiket obat bebas terbatas adalah lingkaran biru dengan garis tepi berwarna hitam.<br>Contoh : CTM<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">3. Obat Keras dan Psikotropika<\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Obat keras adalah obat yang hanya dapat dibeli di apotek dengan resep dokter. Tanda khusus pada kemasan dan etiket adalah huruf K dalam lingkaran merah dengan garis tepi berwarna hitam.<br>Contoh : Asam Mefenamat<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Obat psikotropika adalah obat keras baik alamiah maupun sintetis bukan narkotik, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku.<br>Contoh : Diazepam, Phenobarbital<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">4. Obat Narkotika<\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Obat narkotika adalah obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan menimbulkan ketergantungan.<br>Contoh : Morfin, Petidin<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Informasi pada Kemasan, Etiket dan Brosur<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebelum menggunakan obat, bacalah sifat dan cara pemakaiannya pada etiket, brosur atau kemasan obat agar penggunaannya tepat dan aman.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada setiap<strong> brosur atau kemasan obat<\/strong> selalu dicantumkan:<br>\u2022 Nama obat<br>\u2022 Komposisi<br>\u2022 Indikasi<br>\u2022 Informasi cara kerja obat<br>\u2022 Aturan pakai<br>\u2022 Peringatan (khusus untuk obat bebas terbatas)<br>\u2022 Perhatian<br>\u2022 Nama produsen<br>\u2022 Nomor batch\/lot<br>\u2022 Nomor registrasi<br>Nomor registrasi dicantumkan sebagai tanda ijin edar absah yang&nbsp;diberikan oleh pemerintah pada setiap kemasan obat.<br>\u2022 Tanggal kadaluarsa<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Tanda Peringatan<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tanda peringatan selalu tercantum pada kemasan obat bebas terbatas, berupa empat persegi panjang berwarna hitam berukuran panjang 5 (lima) centimeter, lebar 2 (dua) centimeter dan memuat pemberitahuan berwarna putih sebagai berikut :<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image is-style-default\"><figure class=\"aligncenter size-large is-resized\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"http:\/\/farmasi.fmipa.umri.ac.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/Peringatan.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-650\" width=\"493\" height=\"319\" srcset=\"https:\/\/farmasi.fmipa.umri.ac.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/Peringatan.jpg 439w, https:\/\/farmasi.fmipa.umri.ac.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/Peringatan-300x194.jpg 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 493px) 100vw, 493px\" \/><\/figure><\/div>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Cara Pemilihan Obat<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Untuk menetapkan jenis obat yang dibutuhkan perlu diperhatikan :<br>b) Gejala atau keluhan penyakit<br>c) Kondisi khusus misalnya hamil, menyusui, bayi, lanjut usia, diabetes mellitus dan lain-lain.<br>d) Pengalaman alergi atau reaksi yang tidak diinginkan terhadap obat tertentu.<br>e) Nama obat, zat berkhasiat, kegunaan, cara pemakaian, efek samping dan interaksi obat yang dapat dibaca pada etiket atau brosur obat.<br>f) Pilihlah obat yang sesuai dengan gejala penyakit dan tidak ada interaksi obat dengan obat yang sedang diminum.<br>g) Untuk pemilihan obat yang tepat dan informasi yang lengkap, tanyakan kepada Apoteker.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Cara Penggunaan Obat<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">a) Penggunaan obat tidak untuk pemakaian secara terus menerus.<br>b) Gunakan obat sesuai dengan anjuran yang tertera pada etiket atau brosur.<br>c) Bila obat yang digunakan menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan,&nbsp;hentikan penggunaan dan tanyakan kepada Apoteker dan dokter.<br>d) Hindarkan menggunakan obat orang lain walaupun gejala penyakit sama.<br>e) Untuk mendapatkan informasi penggunaan obat yang lebih lengkap, tanyakan kepada Apoteker.<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Bentuk sediaan obat<\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Padat<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Tablet,&nbsp;adalah sedian farmasi yang padat, berbentuk bundar dan pipih atau cembung rangkap.<\/li><li>Kapsul, didefinisikan sebagai sediaan padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras atau lunak yang dapat larut. Cangkang dapat dibuat dari pati, gelatin, atau bahan lainnya yang sesuai.<\/li><li>Obat Kaplet,&nbsp;Kaplet (kapsul tablet) adalah bentuk tablet yang dibungkus dengan lapisan gula dan biasanya diberi zat warna yang menarik.<\/li><li>Serbuk\/powder, aerosol<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Semipadat<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Obat setengah padat yang dapat berupa berupa salep atau krim.<\/li><li>Supositoria, ovula<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Obat Cair<\/strong>, obat dalam bentuk cairan bisa berupa larutan, emulsi, suspensi, dan cairan steril.<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Cara Pemakaian Obat Yang Tepat sesuai Rute Pemberian<\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Obat digunakan sesuai dengan petunjuk penggunaan, pada saat yang tepat dan dalam jangka waktu terapi sesuai dengan anjuran.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large is-style-default\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"443\" height=\"251\" src=\"http:\/\/farmasi.fmipa.umri.ac.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/Rute-Pemberian.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-652\" srcset=\"https:\/\/farmasi.fmipa.umri.ac.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/Rute-Pemberian.png 443w, https:\/\/farmasi.fmipa.umri.ac.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/Rute-Pemberian-300x170.png 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 443px) 100vw, 443px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Petunjuk Pemakaian Obat Oral (pemberian obat melalui mulut)<\/h4>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Adalah cara yang paling lazim, karena sangat praktis, mudah dan aman. Yang terbaik adalah minum obat dengan segelas air<\/li><li>Ikuti petunjuk dari profesi pelayan kesehatan (saat makan atau saat perut kosong)<\/li><\/ul>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large is-style-default\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"300\" height=\"241\" src=\"http:\/\/farmasi.fmipa.umri.ac.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/minum-oral.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-653\"\/><\/figure>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Obat untuk kerja diperlama (long acting) harus ditelan seluruhnya. Tidak boleh dipecah atau dikunyah.<\/li><li>Sediaan cair, gunakan sendok obat atau alat lain yang telah diberi ukuran untuk ketepatan dosis. Jangan gunakan sendok rumah tangga.<\/li><li>Jika penderita sulit menelan sediaan obat yang dianjurkan oleh dokter minta pilihan bentuk sediaan lain.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Petunjuk Pemakaian obat oral untuk bayi\/anak balita :<\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sediaan cair untuk bayi dan balita harus jelas dosisnya, gunakan sendok takar dalam kemasan obatnya.<br>Segera berikan minuman yang disukai anak setelah pemberian obat yang terasa tidak enak\/pahit,<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Petunjuk Pemakaian Obat Tetes Mata<\/h4>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Ujung alat penetes jangan tersentuh oleh benda apapun (termasuk mata) dan selalu ditutup rapat setelah digunakan.<\/li><li>Untuk glaukoma atau inflamasi, petunjuk penggunaan yang tertera pada kemasan harus diikuti dengan benar.<\/li><li>Cara penggunaan adalah cuci tangan, kepala ditengadahkan, dengan jari telunjuk kelopak mata bagian bawah ditarik ke bawah untuk membuka kantung konjungtiva, obat diteteskan pada kantung konjungtiva dan mata ditutup selama 1-2 menit, jangan mengedip.<\/li><li>Ujung mata dekat hidung ditekan selama 1-2 menit<\/li><li>Cuci tangan dicuci untuk menghilangkan obat yang mungkin terpapar pada tangan<\/li><\/ul>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large is-style-default\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"476\" height=\"115\" src=\"http:\/\/farmasi.fmipa.umri.ac.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/mata.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-654\" srcset=\"https:\/\/farmasi.fmipa.umri.ac.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/mata.jpg 476w, https:\/\/farmasi.fmipa.umri.ac.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/mata-300x72.jpg 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 476px) 100vw, 476px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Petunjuk Pemakaian Obat Salep Mata<\/h4>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Ujung tube salep jangan tersentuh oleh benda apapun (termasuk mata).<\/li><li>Cuci tangan, kepala ditengadahkan, dengan jari telunjuk kelopak mata bagian bawah ditarik ke bawah untuk membuka kantung konjungtiva, tube salep mata ditekan hingga salep masuk dalam kantung konjungtiva dan mata ditutup selama 1-2 menit. Mata digerakkan ke kiri-kanan, atas-bawah.<\/li><li>Setelah digunakan, ujung kemasan salep diusap dengan tissue bersih (jangan dicuci dengan air hangat) dan wadah salep ditutup rapat.<\/li><li>Cuci tangan untuk menghilangkan obat yang mungkin terpapar pada tangan.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large is-style-default\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"404\" height=\"404\" src=\"http:\/\/farmasi.fmipa.umri.ac.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/obat-mata-salep.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-655\" srcset=\"https:\/\/farmasi.fmipa.umri.ac.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/obat-mata-salep.jpg 404w, https:\/\/farmasi.fmipa.umri.ac.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/obat-mata-salep-300x300.jpg 300w, https:\/\/farmasi.fmipa.umri.ac.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/obat-mata-salep-150x150.jpg 150w\" sizes=\"auto, (max-width: 404px) 100vw, 404px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Petunjuk Pemakaian Obat Tetes Hidung<\/h4>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Hidung dibersihkan dan kepala ditengadahkan bila penggunaan obat dilakukan sambil berdiri dan duduk atau penderita cukup berbaring saja.<\/li><li>Kemudian teteskan obat pada lubang hidung dan biarkan selama beberapa menit agar obat dapat tersebar di dalam hidung<\/li><li>Untuk posisi duduk, kepala ditarik dan ditempatkan diantara dua paha<br>Setelah digunakan, alat penetes dibersihkan dengan air panas dan keringkan dengan tissue bersih.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Petunjuk Pemakaian Obat Semprot Hidung<\/h4>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Hidung dibersihkan dan kepala tetap tegak. Kemudian obat disemprotkan ke dalam lubang hidung sambil menarik napas dengan cepat.<\/li><li>Untuk posisi duduk, kepala ditarik dan ditempatkan diantara dua paha<\/li><li>Setelah digunakan, botol alat semprot dicuci dengan air hangat tetapi jangan sampai air masuk ke dalam botol kemudian dikeringkan dengan tissue bersih.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Petunjuk Pemakaian Obat Tetes Telinga<\/h4>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Ujung alat penetes jangan menyentuh benda apapun termasuk telinga<\/li><li>Cuci tangan sebelum menggunakan obat tetes telinga<\/li><li>Bersihkan bagian luar telinga dengan \u201dcotton bud\u201d<\/li><li>Jika sediaan berupa suspensi, sediaan harus dikocok terlebih dahulu<\/li><li>Cara penggunaan adalah penderita berbaring miring dengan telinga yang akan ditetesi obat menghadap ke atas. Untuk membuat lubang telinga lurus sehingga mudah ditetesi maka bagi penderita dewasa telinga ditarik ke atas dan ke belakang, sedangkan bagi anak-anak telinga ditarik ke bawah dan ke belakang.<\/li><li>Kemudian obat diteteskan dan biarkan selama 5 menit<\/li><li>Bersihkan ujung penetes dengan tissue bersih.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large is-style-default\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"495\" height=\"372\" src=\"http:\/\/farmasi.fmipa.umri.ac.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/swamedikasi-8-638.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-656\" srcset=\"https:\/\/farmasi.fmipa.umri.ac.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/swamedikasi-8-638.jpg 495w, https:\/\/farmasi.fmipa.umri.ac.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/swamedikasi-8-638-300x225.jpg 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 495px) 100vw, 495px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Petunjuk Pemakaian Obat Supositoria<\/h4>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Cuci tangan, suppositoria dikeluarkan dari kemasan, suppositoria dibasahi dengan air.<\/li><li>Penderita berbaring dengan posisi miring dan suppositoria dimasukkan ke dalam rektum.<\/li><li>Masukan supositoria dengan cara bagian ujung supositoria didorong dengan ujung jari sampai melewati otot sfingter rektal; kira-kira \u00bd \u2013 1 inchi pada bayi dan 1 inchi pada dewasa.<\/li><li>Jika suppositoria terlalu lembek untuk dapat dimasukkan, maka sebelum digunakan sediaan ditempatkan dalam lemari pendingin selama 30 menit kemudian tempatkan pada air mengalir sebelum kemasan dibuka<\/li><li>Setelah penggunaan suppositoria, tangan penderita dicuci bersih.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large is-resized is-style-default\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"http:\/\/farmasi.fmipa.umri.ac.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/suppositoria-cara-pakai-suppositoria-cara-penggunaan-suppositoria-supositoria.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-657\" width=\"431\" height=\"317\" srcset=\"https:\/\/farmasi.fmipa.umri.ac.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/suppositoria-cara-pakai-suppositoria-cara-penggunaan-suppositoria-supositoria.jpg 320w, https:\/\/farmasi.fmipa.umri.ac.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/suppositoria-cara-pakai-suppositoria-cara-penggunaan-suppositoria-supositoria-300x220.jpg 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 431px) 100vw, 431px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Petunjuk Pemakaian Obat Krim\/Salep rektal<\/h4>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Bersihkan dan keringkan daerah rektal, kemudian masukkan salep atau krim secara perlahan ke dalam rektal.<\/li><li>Cara lain adalah dengan menggunakan aplikator. Caranya adalah aplikator dihubungkan dengan wadah salep\/krim yang sudah dibuka, kemudian dimasukkan ke dalam rektum dan sediaan ditekan sehingga salep\/krim keluar.<\/li><li>Buka aplikator dan cuci bersih dengan air hangat dan sabun.<\/li><li>Setelah penggunaan, tangan penderita dicuci bersih<\/li><\/ul>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large is-style-default\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"794\" height=\"1024\" src=\"http:\/\/farmasi.fmipa.umri.ac.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/Dumin-Gbr-794x1024.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-658\" srcset=\"https:\/\/farmasi.fmipa.umri.ac.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/Dumin-Gbr-794x1024.jpg 794w, https:\/\/farmasi.fmipa.umri.ac.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/Dumin-Gbr-233x300.jpg 233w, https:\/\/farmasi.fmipa.umri.ac.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/Dumin-Gbr-768x991.jpg 768w, https:\/\/farmasi.fmipa.umri.ac.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/Dumin-Gbr.jpg 1121w\" sizes=\"auto, (max-width: 794px) 100vw, 794px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Petunjuk Pemakaian Obat Vagina (Ovula)<\/h4>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Cuci tangan sebelum menggunakan obat dan gunakan aplikator sesuai dengan petunjuk penggunaan dari industri penghasil sediaan.\u0083<\/li><li>Jika penderita hamil, maka sebelum menggunakan obat sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan profesional perawatan kesehatan.<\/li><li>Penderita berbaring dengan kedua kaki direnggangkan dan dengan menggunakan aplikator obat dimasukkan ke dalam vagina sejauh mungkin tanpa dipaksakan dan biarkan selama beberapa waktu.<\/li><li>Setelah penggunaan, aplikator dan tangan penderita dicuci bersih dengan sabun dan air hangat.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Efek Samping<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Efek samping obat adalah setiap respons obat yang merugikan dan tidak diharapkan yang terjadi karena penggunaan obat dengan dosis atau takaran normal pada manusia untuk tujuan profilaksis, diagnosis dan terapi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Yang perlu diketahui tentang efek samping adalah :<br>\u2022 Baca dengan seksama kemasan atau brosur obat, efek samping yang mungkin timbul.<br>\u2022 Untuk mendapatkan informasi tentang efek samping yang lebih lengkap dan apa yang harus dilakukan bila mengalaminya, tanyakan pada Apoteker.<br>\u2022 Efek samping yang mungkin timbul antara lain reaksi alergi gatal-gatal, ruam, mengantuk, mual dan lain-lain.<br>\u2022 Penggunaan obat pada kondisi tertentu seperti pada ibu hamil, menyusui, lanjut usia, gagal ginjal dan lain-lain dapat menimbulkan efek samping yang fatal, penggunaan obat harus di bawah pengawasan dokter\/Apoteker.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Cara Penyimpanan Obat<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">1. Simpan obat dalam kemasan asli dan dalam wadah tertutup rapat.<br>2. Simpan obat pada suhu kamar dan terhindar dari sinar matahari langsung atau seperti yang tertera pada kemasan.<br>3. Simpan obat ditempat yang tidak panas atau tidak lembab karena dapat menimbulkan kerusakan.<br>4. Jangan menyimpan obat bentuk cair dalam lemari pendingin agar tidak beku, kecuali jika tertulis pada etiket obat.<br>5. Jangan menyimpan obat yang telah kadaluarsa atau rusak.<br>6. Jauhkan dari jangkauan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Tanggal Kadaluarsa<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tanggal kadaluarsa menunjukkan bahwa sampai dengan tanggal yang dimaksud, mutu dan kemurnian obat dijamin masih tetap memenuhi syarat. Tanggal kadaluarsa biasanya dinyatakan dalam bulan dan tahun. Obat rusak merupakan obat yang mengalami perubahan mutu, seperti :<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">1. Tablet<\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u2013 Terjadinya perubahan warna, bau atau rasa<br>\u2013 Kerusakan berupa noda, berbintik-bintik, lubang, sumbing, pecah,<br>retak dan atau terdapat benda asing, jadi bubuk dan lembab<br>\u2013 Kaleng atau botol rusak<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">2. Tablet salut<\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u2013 Pecah-pecah, terjadi perubahan warna<br>\u2013 Basah dan lengket satu dengan lainnya<br>\u2013 Kaleng atau botol rusak sehingga menimbulkan kelainan fisik<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">3. Kapsul<\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u2013 Perubahan warna isi kapsul<br>\u2013 Kapsul terbuka, kosong, rusak atau melekat satu sama lain<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">4. Cairan<\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u2013 Menjadi keruh atau timbul endapan<br>\u2013 Konsistensi berubah<br>\u2013 Warna atau rasa berubah<br>\u2013 Botol plastik rusak atau bocor<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">5. Salep<\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u2013 Warna berubah<br>\u2013 Pot atau tube rusak atau bocor<br>\u2013 Bau berubah<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">9. Dosis<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dosis merupakan aturan pemakaian yang menunjukkan jumlah gram atau volume dan frekuensi pemberian obat untuk dicatat sesuai dengan umur dan berat badan pasien.<br>\u2013 Gunakan obat tepat waktu sesuai aturan pemakaian.<br>Contoh :<br>\u2022  Tiga kali sehari berarti obat diminum setiap 8 jam sekali<br>\u2022  Obat diminum sebelum atau sesudah makan<br>\u2022  Jika menggunakan obat-obat bebas, ikuti petunjuk pada kemasan atau brosur\/leaflet<br>\u2013 Bila terlupa minum obat :<br>\u2022  Minumlah dosis yang terlupa segera setelah ingat, tetapi jika hampir mendekati dosis berikutnya, maka abaikan dosis yang terlupa dan kembali ke jadwal selanjutnya sesuai aturan.<br>\u2022  Jangan menggunakan dua dosis sekaligus atau dalam waktu yang berdekatan.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Hal yang harus diperhatikan<\/h3>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">1. Kemasan\/wadah<\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Harus tersegel dengan baik, tidak rusak, tidak berlubang, tanggal kadaluarsa jelas terbaca.<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">2. Penandaan pada wadah<\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u2013 Baca zat berkhasiat dan manfaatnya<br>\u2013 Baca aturan pakainya, misalnya sebelum atau sesudah makan<br>\u2013 Untuk pencegahan overdosis, jangan minum obat 2 kali dosis bila sebelumnya lupa minum obat<br>\u2013 Baca kontraindikasinya, Misalnya: tidak boleh diminum oleh ibu hamil\/menyusui<br>\u2013 tidak boleh diminum oleh penderita gagal ginjal<br>\u2013 Baca efek samping yang mungkin timbul<br>\u2013 Baca cara penyimpanannya<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">3. Bila ragu tanyakan pada Apoteker<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">4. Bila sakit berlanjut hubungi dokter<\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sumber : https:\/\/gudangilmu.farmasetika.com\/informasi-umum-tentang-obat-yang-wajib-diketahui-masyarakat\/<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Obat adalah bahan atau panduan bahan-bahan yang siap digunakan untuk&nbsp;mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam&nbsp;rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan,&nbsp;peningkatan kesehatan dan kontrasepsi (Undang-Undang Kesehatan No. 23&nbsp;tahun 1992). Obat jadi adalah obat yang sudah dalam bentuk siap pakai, dibedakan antara obat&nbsp;generik dan obat merek dagang. Obat generik adalah obat jadi terdaftar yang&nbsp;menggunakan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":664,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[21],"tags":[],"class_list":["post-648","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-materi-kuliah"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/farmasi.fmipa.umri.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/648","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/farmasi.fmipa.umri.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/farmasi.fmipa.umri.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/farmasi.fmipa.umri.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/farmasi.fmipa.umri.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=648"}],"version-history":[{"count":9,"href":"https:\/\/farmasi.fmipa.umri.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/648\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":776,"href":"https:\/\/farmasi.fmipa.umri.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/648\/revisions\/776"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/farmasi.fmipa.umri.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/664"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/farmasi.fmipa.umri.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=648"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/farmasi.fmipa.umri.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=648"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/farmasi.fmipa.umri.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=648"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}